Teheran/Washington - Memasuki hari ke-60 sejak pecahnya konflik terbuka antara Amerika Serikat-Iran pada 28 Februari 2026, situasi kawasan Timur Tengah masih berada dalam ketegangan tinggi. Meskipun gencatan senjata secara umum masih bertahan, upaya diplomatik yang berlangsung menemui jalan buntu, sementara front kedua di Lebanon justru memanas dengan eskalasi serangan antara Israel dan Hizbullah.
Berikut adalah rangkuman fakta-fakta terbaru terkait dinamika konflik yang melibatkan negara-negara Islam dan sekutunya.
1. Diplomasi alot, Iran Bantah akan Bertemu Langsung dengan AS
Putaran negosiasi yang dijadwalkan di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu mengalami kegagalan. Presiden AS Donald Trump sempat membatalkan rencana pengiriman utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, sebelum akhirnya mengizinkan mereka untuk berangkat ke Pakistan . Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang juga berkunjung ke Islamabad menegaskan bahwa tidak ada rencana pertemuan langsung dengan delegasi AS .
Teheran bersikeras hanya akan berkomunikasi melalui mediator Pakistan, menolak bernegosiasi di bawah tekanan dan ancaman . Iran menyebut tuntutan Washington sebagai "berlebihan" dan menjadi penyebab utama kegagalan putaran negosiasi sebelumnya .
2. Proposal Baru Iran: "Damai Dulu, Nuklir Nanti"
Di tengah kebuntuan, media AS melaporkan bahwa Iran telah mengajukan proposal baru yang cukup mengejutkan. Menurut laporan Axios yang dikutip berbagai media, Teheran ingin mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz dengan syarat pembahasan program nuklir ditunda ke tahap berikutnya .
Iran menawarkan perpanjangan gencatan senjata dan menghentikan konflik secara permanen. Sebagai imbalannya, mereka meminta AS mencabut blokade laut di Selat Hormuz. Pembahasan mengenai pengayaan uranium baru akan dilakukan setelah kondisi konflik benar-benar reda . Namun, Gedung Putih dilaporkan masih belum menerima proposal ini, dengan Presiden Trump menyatakan bahwa tawaran Iran "belum cukup" .
3. Iran Gandeng Rusia, Putin Jadi Kunci?
Menghadapi kebuntuan dengan Barat, Teheran bergerak cepat mengamankan dukungan dari sekutu tradisionalnya. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi tiba di St. Petersburg, Rusia, pada Senin (27/4) untuk bertemu langsung dengan Presiden Vladimir Putin .
Kremlin mengkonfirmasi bahwa pertemuan ini sangat penting untuk membahas perkembangan situasi di sekitar Iran dan kawasan Timur Tengah. Analis melihat langkah ini sebagai upaya Iran untuk mencari dukungan politik serta kemungkinan bantuan teknis dari Moskow, terutama terkait ketahanan ekonomi dan militer Iran di tengah blokade AS .
4. Front Lebanon Memanas: Gencatan Senjata Hanya Fiktif
Sementara fokus dunia tertuju pada negosiasi AS-Iran, front kedua di Lebanon selatan justru mengalami eskalasi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan memerintahkan peningkatan serangan ke Lebanon selatan, mengabaikan kesepakatan gencatan senjata yang diperpanjang tiga minggu .
Pada akhir pekan, jet tempur Israel membombardir kota Hadatha dan wilayah sekitar Khirbat Salim. Militer Israel juga dituduh menghancurkan rumah-rumah warga serta panel surya di desa Al-Khiyam dengan alasan memutus pasokan listrik .
Sebagai balasan, Hizbullah mengumumkan telah meluncurkan serangan drone bunuh diri yang menargetkan posisi artileri baru milik Israel di pemukiman Al-Bayyadh. Hizbullah menyatakan bahwa gencatan senjata selama ini hanyalah fiksi, karena Israel terus melakukan agresi di lapangan .
5. Dampak Global: Selat Hormuz Masih Tersumbat
Konflik yang telah berlangsung dua bulan ini terus memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan blokade balasan oleh AS menyebabkan gangguan parah pada pasokan minyak dunia .
Harga minyak mentah Brent mengalami lonjakan dan volatilitas tinggi, memicu kekhawatiran inflasi serta krisis pangan di negara-negara berkembang yang bergantung pada impor energi








Komentar
Tuliskan Komentar Anda!